belajar filsafat stoik

menjaga ketenangan mental saat menghadapi ujian sulit

belajar filsafat stoik
I

Mari kita ingat-ingat lagi malam sebelum ujian besar. Tangan terasa dingin, jantung berdebar lebih cepat, dan pikiran mulai membuat skenario kiamat. Pernahkah kita merasa otak kita mendadak kosong saat melihat soal pertama di kertas ujian? Saya juga sering mengalaminya. Rasanya seperti ada alarm tanda bahaya yang berteriak kencang di dalam kepala kita. Kita sudah belajar berminggu-minggu, membaca buku sampai larut malam. Tapi begitu duduk di kursi ujian, semua materi itu seperti menguap begitu saja. Ini adalah momen yang sangat membuat frustrasi. Kita merasa sendirian, padahal kenyataannya, ini adalah pengalaman universal manusia.

II

Secara biologis, reaksi panik ini sebenarnya sangat wajar dan masuk akal. Otak kita punya sebuah sistem alarm purba yang bernama amygdala. Ribuan tahun yang lalu, alarm ini sangat berguna untuk menyelamatkan nenek moyang kita. Saat ada harimau mengaum, amygdala memicu respons fight-or-flight alias lawan atau lari. Masalahnya, sistem otak kita belum sepenuhnya mendapat pembaruan untuk hidup di dunia modern. Amygdala sering kali tidak bisa membedakan antara ancaman dimakan hewan buas dan ancaman gagal ujian matematika. Akibatnya, otak emosional kita membajak sistem logika kita. Fenomena ini dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah amygdala hijack. Pertanyaannya sekarang, apakah kita harus pasrah dan terus menjadi korban dari sistem alarm kita sendiri?

III

Ternyata, sekitar dua ribu tahun yang lalu, ada sekelompok orang yang sudah menemukan cara untuk meretas sistem otak ini. Mereka menyebut diri mereka sebagai filsuf Stoik. Mereka hidup di zaman Yunani dan Romawi kuno. Jangan bayangkan mereka cuma duduk-duduk minum teh sambil berdiskusi ringan. Ujian hidup mereka jauh lebih ekstrem dari sekadar soal pilihan ganda. Ujian mereka adalah peperangan, wabah penyakit, pengasingan politik, hingga ancaman hukuman mati. Tapi anehnya, di tengah semua kekacauan itu, mereka tetap bisa tidur nyenyak dan berpikir sangat jernih. Ambil contoh Epictetus. Dia lahir sebagai budak, bahkan kakinya sengaja dipatahkan oleh majikannya. Namun, dia tumbuh menjadi salah satu pemikir paling tenang dalam sejarah. Ada juga Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi. Dia harus memimpin kerajaan di tengah wabah mematikan dan pengkhianatan, tapi catatan hariannya dipenuhi dengan kedamaian batin. Rahasia apa yang sebenarnya mereka miliki? Bagaimana cara mereka melatih otak untuk mematikan alarm kepanikan itu tepat saat dunia sedang runtuh?

IV

Rahasia besar mereka ternyata bertumpu pada satu konsep yang sangat sederhana namun radikal. Mereka menyebutnya Dikotomi Kendali atau Dichotomy of Control. Intinya begini. Di dunia ini, segala sesuatu terbagi menjadi dua kotak. Kotak pertama berisi hal-hal yang ada di bawah kendali kita. Kotak kedua berisi hal-hal yang sama sekali di luar kendali kita. Mari kita bawa ini ke ruang ujian. Apa yang masuk di kotak pertama? Usaha belajar kita, jam tidur kita malam sebelumnya, dan fokus kita saat menjawab soal. Lalu, apa yang masuk di kotak kedua? Tingkat kesulitan soal ujian, mood dosen yang akan mengoreksi, dan tentu saja, nilai akhirnya. Secara neurosains, saat kita menghabiskan energi memikirkan hal di luar kendali, otak akan mengalami cognitive overload atau kelebihan beban. Alarm amygdala akan makin menyala terang. Tapi, saat kita dengan sadar menggeser fokus hanya pada apa yang bisa kita kendalikan, sesuatu yang ajaib terjadi. Kita mengaktifkan prefrontal cortex, yaitu bagian otak depan yang mengurus logika, perencanaan, dan ketenangan. Tiba-tiba, monster ujian yang menakutkan itu menyusut menjadi sekadar tumpukan kertas biasa yang harus kita isi sebaik mungkin.

V

Tentu saja, mempraktikkan filosofi ini butuh waktu dan latihan. Menjadi seorang Stoik bukan berarti kita berubah menjadi robot dingin tanpa emosi. Bukan juga berarti kita menjadi apatis dan tidak peduli pada nilai ujian. Justru sebaliknya. Kita menjadi sangat peduli pada persiapan dan dedikasi kita, namun kita dengan ikhlas melepaskan kemelekatan pada hasil akhirnya. Teman-teman, besok atau lusa, saat kita kembali duduk di kursi ujian itu dan tangan mulai terasa dingin, mari kita coba tarik napas panjang. Ingatkan diri kita masing-masing bahwa tugas utama kita hanyalah melakukan yang terbaik dengan apa yang ada di depan mata. Sisanya, biarkan semesta dan probabilitas yang mengurusnya. Mari kita hadapi ujian-ujian di depan kita dengan kepala tegak, pikiran yang tajam, dan ketenangan batin ala kaisar Romawi. Kita pasti bisa melaluinya.